Narasiaktual.com – Jakarta – Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo menyebut janji Amerika Serikat (AS) untuk mendanai program Just Energy Transition Partnership (JETP) senilai US$5 miliar (Rp8157 triliun) hanya sekadar omon-omon.
Menurut Hashim negara-negara maju telah menyepakati pendanaan JETP sebesar US$20 miliar dengan AS berkomitmen menyumbang seperempatnya. Namun hingga kini tidak ada satu dolar pun yang dikucurkan oleh pemerintah AS.
“Dua tahun berjalan ternyata banyak omon-omon. Hibah US$5 miliar itu ternyata tidak ada” kata Hashim dalam ESG Sustainability Forum 2025 di Menara Bank Mega Jakarta Jumat (31/1).
Hashim juga mengkritik sikap AS yang kerap menekan Indonesia untuk mengurangi penggunaan batu bara sementara mereka sendiri menjadi penyumbang emisi karbon terbesar.
“Kita (Indonesia) hanya menyumbang 3 ton emisi karbon per kapita sedangkan AS mencapai 13 ton. Mereka menyuruh kita tutup PLTU batu bara tapi mereka malah keluar dari Perjanjian Paris. Rasa keadilannya di mana?” tegas Hashim.
JETP sebelumnya disepakati dalam KTT G20 di Bali pada November 2022 sebagai komitmen negara-negara G7 untuk mendukung transisi energi bersih di Indonesia. Namun dengan belum terealisasinya janji pendanaan masa depan program ini kini dipertanyakan.




